Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Abdul Mu’ti menegaskan, gelar profesor bukan sekadar pangkat akademik. Seorang profesor, kata dia, harus menjadi teladan intelektual, sosial, dan moral di tengah masyarakat.
Penegasan tersebut disampaikan Mu’ti saat memberikan arahan dalam pengukuhan Prof. Muhammad Qorib, sebagai Guru Besar ke-27 Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), di Medan, Senin (16/2/2026).
“Profesor tidaklah sekadar pangkat akademik. Profesor mestinya menjadi cahaya di tengah gulita, menjadi pemandu di tengah arah tak menentu,” ujarnya.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah ini mengawali arahannya dengan menyinggung buku The Death of Expertise karya Tom Nichols. Buku tersebut menggambarkan bagaimana kepakaran semakin tersaingi oleh teknologi digital.
Menurutnya, masyarakat kini kerap mencari fatwa agama bukan kepada ulama atau pendeta, melainkan kepada “Profesor Google”. Bahkan, pencarian itu sering bukan untuk menemukan kebenaran, melainkan pembenaran.
“Kebenaran tidak lagi ditentukan oleh ilmu, tidak lagi ditentukan oleh hukum, tapi ditentukan oleh popularitas dan viralitas. Yang paling banyak mendukung itulah yang dianggap sebagai kebenaran. Padahal yang viral di media sosial itu seringkali bukan aspirasi sesungguhnya, melainkan aspirasi yang digerakkan oleh robot,” jelas Mu’ti.
Ia juga menyinggung buku nonfiksi The Future of Truth karya sineas Jerman Werner Herzog yang terbit akhir 2025. Buku tersebut mengulas dunia digital yang makin sulit membedakan fakta dan fabrikasi.
Mu’ti mengutip kalimat penutup buku itu, “Truth has no future but truth has no past either, but we will not, must not, cannot give up the search for it”.
“Saya cari sampai halaman terakhir The Future of Truth, ternyata penutupnya hanya dua kalimat… kita tidak akan, tidak boleh, dan tidak bisa menyerah untuk terus mencari kebenaran,” paparnya.
Menurut Mu’ti, di era kecemasan dan kebimbangan, kehadiran cendekiawan dan tokoh agama tetap sangat diperlukan. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dapat menjelaskan informasi, tetapi tidak mampu menentukan kebenarannya.
Mengutip pesan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir, Mu’ti menyebut guru besar sebagai capaian akademik tertinggi insan Muslim dan kader Muhammadiyah, sosok Ulil Albab yang mampu berpikir mendalam.
Ia menjelaskan, dalam Al-Qur’an terdapat empat istilah bagi orang berilmu, yakni Ulul Albab, Ulul Abshor, Ulul ‘Ilmi, dan Ulul Nuha. Semuanya merujuk pada insan berwawasan luas dan berilmu tinggi.
Mu’ti juga mengutip Surah Al-Ma’idah ayat 100 yang menegaskan bahwa yang buruk tidak sama dengan yang baik, meski yang buruk tampak lebih banyak.
“Katakanlah (Muhammad), ‘Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. Maka bertakwalah kepada Allah, wahai orang-orang yang mempunyai akal, agar kamu beruntung’,” kutipnya.
Menurut Mu’ti, kehadiran ilmuwan harus memiliki visi jauh ke depan. Ilmu memiliki fungsi preskriptif, yakni mampu memproyeksikan apa yang akan terjadi dan bagaimana mengatasinya.
Ia pun merinci tiga keteladanan yang wajib dimiliki profesor.
Pertama, keteladanan intelektual. Profesor harus mencintai ilmu dan menjunjung tinggi supremasi ilmu.
Kedua, keteladanan sosial. Profesor tidak boleh asyik dengan dirinya sendiri, tetapi harus menjadi agent of change dan agent of civilization.
Ketiga, keteladanan moral sebagai agen moral dan spiritual. “Guru besar itu di atasnya guru yang tidak besar, walaupun guru besar tidak selalu gajinya besar,” selorohnya.
Selain tiga keteladanan, Mu’ti menekankan pentingnya memperjuangkan dua kebenaran.
Pertama, kebenaran agama (diniyah) yang menuntun manusia di tengah carut-marut kehidupan.
Kedua, kebenaran akliah atau ilmiah yang memandu masyarakat menuju kemajuan.
“Saya yakin dengan tiga keteladanan dan dua kebenaran perjuangan itu kita semuanya semakin optimistis bahwa Indonesia ini akan semakin maju ketika pendidikan Indonesia juga maju dan berkualitas,” ujarnya.
Mu’ti menutup arahannya dengan pantun, “Bunga mekar di pagi hari menghias indah taman kota, guru besar berilmu tinggi sang pencerah peradaban bangsa”.